Ustadz Bayaran

March 22nd, 2008 by eys-islami

Mengajar agama dengan memperoleh bayaran (kafalah, fee, ongkos transport dsb) itu boleh engga sih?
Jawabnya boleh. Asal tidak mengganggu niat ikhlas karena Allah semata.
Tentu saja juga jangan sampai menjadi ustadz bayaran (engga enak kan dengernya?).

Menurutku ustadz bayaran itu:

1. Orientasinya untuk Allah dan untuk uang. (kalau orientasinya untuk uang doang namanya bukan ustadz!)

2. Kalau ada dua undangan bersamaan, yang didahulukan yang bayarannya lebih gedhe. Mungkin juga dia akan membatalkan undangan yang duluan hanya karena ada undangan lain yang meskipun datangnya belakangan tetapi potensi bayarannya lebih besar.

3. Kalau mengisi tidak diberi bayaran, suasana jadi kurang enak baik bagi panitia maupun baginya.

4. dan lain-lain.

weleh-weleh ada angin apa sampai nulis begini?

Engga ada apa-apa sih

(biasanya njawab begini berarti ada apa-apa yang disimpan).

Iya deh, yang bener ada renungan yang mengganggu pikiran saya:
1. Saya bukan ustadz, tetapi beberapa kali terima bayaran setelah mengisi acara
2. Ketika ada peserta kajian yang mengeluh, "sekarang peserta kajian kok engga semilitan yang dulu ya?"
Deg.
Saya merasa terpukul.
Jangan-jangan karena kajian ini dulu dikelola oleh orang-orang yang ikhlas,
sedangkan sekarang mereka diisi oleh saya?

Astaghfirullaah,
ampun Gusti…..

Saya jadi merasa sangat menyesal dan berfikir bahwa yang terbaik bagi saya adalah menolak semua bayaran terkait dengan aktifitas seputar pengajian. Apa pun hukumnya kafalah ustadz, saya harus sadar bahwa saya bukan ustadz dan hati saya belum seikhlas para ustadz.

Jadi teman-teman kalau ngajak saya sharing, jangan sungkan-sungkan untuk tidak menyiapkan amplop ya?
Dan kalau wajah saya agak berubah karena engga terima amplop, tolong taushiyahi saya dengan lembut:
"Insya Allah ada balasan yang sangat mulia disisi Allah akhi…."

(tulisan ini mutlak lahir dari renungan pribadi, tidak ditujukan kepada siapa pun selain diri sendiri dan teman-teman agar tidak sungkan untuk tidak menyiapkan amplop)

—- kalau amplop engga mau isinya mau engga?
dasar usil! udah masalah serius begini masih juga becanda!!!!

Astaghfirullaah…..

Takut preman terminal Cirebon

March 7th, 2008 by eys-islami

Ada takut yang normal: takut harimau, takut penyakit, takut lapar/miskin dan sebagainya (dalam kadar normal ketakutan ini membuat kita hati-hati/waspada).

Ada takut yang dibuat-buat (entah oleh lingkungan/diri sendiri): takut hantu, takut gelap, takut ketinggian dan sebagainya (dalam banyak hal ketakutan ini mengurangi potensi kita untuk berkembang. Mis: jadi engga dekat sama Allah gara-gara takut wudhu di malam hari). Karena takut ini dibuat-buat (meskipun mungkin membuatnya engga sengaja), maka takut lebih baik dihilangkan saja.

Aku barusan mengingatkan Husna (my first daughter) agar dia hati-hati kalau ngelewatin hutan bambu menuju sawah dekat ponpesnya: takut ada ular.

Eee… tapi aku jadi geli sendiri ketika kemudian kemalaman di terminal Cirebon. Ternyata aku takut preman. Tanpa bermaksud mendiskreditkan Cirebon, pengalaman buruk sebelumnya ketika berurusan dengan preman (calo) terminal Cirebon membuatku memilih menghindari mereka. Jam sembilan malam, aku jalan dari terminal sampai perempatan yang ada hotel rajawalinya (belum tahu tuh namanya per4an apaan).

Sebelumnya aku sudah mendekati seseorang berseragam polisi yang sedang minum kopi. Iseng-iseng aku ikut nongkrong di warung kopi itu (bukan warung si; lesehan di lantai terminal itu loh). Eee kulihat beberapa preman sedang berasyik masyuk ngobrol dengan pa polisi itu. Yah… ngeliat mereka kompak begitu aku jadi takut; kalau ada apa-apa mau ngelapor sama siapa? Akhirnya ya itu tadi; aku rela jalan malam-malam sampai perempatan (jl) rajawali.

Tanya sana-sini, ternyata di perempatan itu juga suka masih ada calonya. Tapi kulihat engga sebahaya yang di terminal sehingga aku engga takut.

Udah ah. engga mood nulis. Oh ya: buat ikhwah dekat CIrebon tolong koreksi dong kalau persepsi saya salah tentang bahayanya terminal Cirebon diwaktu malam.

Ya Syaikh .. Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami !

February 10th, 2008 by eys-islami
dari:
http://groups.yahoo.com/group/taushiyah-only/message/1062
Ya Syaikh .. Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami !
(Renungan di tengah Perjalanan dakwah)

Oleh: Farid Nu’man

Mukadimah

Dalam
sebuah perjalanan kami bersama beberapa Ikhwah, ada perbincangan
menarik. Salah seorang Al Akh bertanya, "Akhi, berapa penghasilan Antum
sebulan dari mengajar?" Ikhwah tersebut tersenyum dan malu menjawabnya.
Namun, ketika ditanya lagi dengan nada bergurau, ia pun menjawab, "150 ribu sebulan." Inilah ikhwah kita, kader da’wah yang memiliki banyak kelompok halaqah.

Ada lagi, Ikhwah yang pernah kami temui, ia aktifis dan banyak amanah
da’wah yang dia emban. Ia hanya berpenghasilan tidak sampai 300 ribu rupiah dari membuat minuman penghangat badan, wedang jahe.
Itulah
ikhwah kita, mereka hidup dipelosok. Namun, kami kira mereka juga ada
di sekitar kita, saudara kita di halaqah, di wilayah da’wah kita,
bahkan ia -mungkin- kita sendiri. Tetapi mereka tidak mengeluh, tidak
lemah, dan Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar.

Syahdan,
di kota besar ada pula ikhwah da’iyah yang hidupnya lebih dari cukup,
bahkan sangat-sangat lebih. Itu baik dan tidak masalah. Namun, jadi
masalah jika ia mengiklankan kemewahan, menyeru orang kepadanya,
memberikan ilustrasi keunggulan `mewah’, bukan sekedar bercerita
kekayaan. Ia menghiasi dengan berbagai dalil dan alasan yang dipaksakan
untuk melegitimasi pemikiran dan perilakunya sendiri. Membicarakan
pentingnya kekayaan, harta, kemewahan, dengan alasan maslahat da’wah
dan sebagainya, karena ia sudah merasakannya. Lalu, kemana
dahulu ketika keadaannya belum seperti sekarang? Kenapa
maslahat-maslahat itu baru dibicarakan saat ini ? Apakah dibicarakan
untuk pledoi? Apa ia tidak pernah tahu kondisi ikhwah lain yang serba sulit? Atau memang tidak mau tahu?

Tak
usah ajarkan kami, kami sudah mengetahui harta memang urgen. Kaya
memang penting. Mayoritas para sahabat yang mubasyiruna bil jannah
(dikabarkan akan masuk surga) adalah orang-orang kaya. Orang kaya yang
bersyukur lebih utama dari orang miskin bersabar. Rasulullah
Shallallahu `Alaihi wa Sallam pun berdoa berlindung dari kekafiran dan
kefaqiran. Dan, kami pun tetap bekerja untuk menafkahi anak dan istri
kami …

Alangkah baiknya jika kami tetap diajarkan -oleh
da’i itu- bagaimana menjadi hamba yang shalih, hamba yang bersyukur
terhadap kekayaan, bersabar atas kesulitan, berjihad, istiqamah, dan
ilmu-ilmu bermanfaat lainnya untuk agama dan dunia kami, agar kami
menjadi pribadi yang apa adanya menurut Al Quran
dan As Sunnah, bukan pribadi yang seharusnya menurut keadaan dan status
sosial. Dan, tidak usah menyesali jika dahulu kami `lupa’ diajarkan
tentang masalah kekayaan dalam silabus tarbiyah kami, karena hakikat
kekayaan adalah kaya jiwa. Inilah keyakinan dari keimanan kepada Allah
Ta’ala, dan pemahaman terhadap harta secara sehat, dan jangan
memaksakan pemahaman yang asing dalam sejarah da’wah dan tarbiyah.

Tetapi
Ya Syaikh …, kaya bukanlah mewah, walau ia bersumber dari satu hal
yang sama yakni harta, tetapi ia berbeda secara nilai yakni mentalitas.
Mentalitas aji mumpung; mumpung ada, mumpung menjabat, mumpung
dekat dengan orang kaya, mumpung di atas, mumpung punya binaan kalangan
menengah ke atas
. Tak ada kamus aji mumpung dalam kehidupan teladan kami, Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ia memegang kunci-kunci kekayaan, jika ia mau mudah sekali mendapatkannya.
Tetapi, ia amat sederhana. Para sahabat, memang kaya, tapi
adakah kita mendengar mereka mengiklankan kemewahan, dan berleha-leha
ketika ada saudaranya kesulitan? Justru mereka menampakkan
kesederhanaan dan kesahajaan. Mereka tahu perasaan sahabat nabi
lainnya. Ya .. mereka tahu perasaan manusia ..

Khadijah
seorang wanita kaya, ia saudagar wanita, ketika nikah dengan Rasulullah
ia menjadi sederhana. Kekayaannya ia abiskan untuk perjuangan suaminya,
bukan dihabiskan untuk menikmati kenikmatan hidup. Jangan sekedar
melihat besarnya mahar ketika mereka berdua nikah, tetapi lihatlah buat
apa dan dikemanakan mahar tersebut, apakah mahar tersebut merubah
Rasulullah menjadi laki-laki yang mewah? Tidak! Terlalu naif
membicarakan kemewahan hanya melihat dari ukuran mahar pernikahan
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam dan Khadijah Radhiallahu
`Anha.

Umar bin Abdul Aziz ia seorang kaya, ketika menjadi khalifah justru ia tinggalkan kekayaannya. Tetapi, kewibawaan mereka sama sekali tidak berkurang,
justru melambung tinggi, karena Allah Ta’ala telah muliakan mereka. Kemana contoh-contoh ini ?

Rasulullah
dan para sahabat adalah teladan kita, qudwah hasanah kita …
selamanya. Kami tidak butuh teladan yang lain, walau ia berilmu, senior
da’wah, tetapi … alhamdulillah, kami tidak pernah silau dengan
istilah, gelar, dan pujian manusia yang sehaluan dengannya. Walau kami sangat menghargai dan menghormati peran dan kontribusi da’wah yang telah mereka lalui demikian panjang.

Kesederhanaan Adalah `Izzah

Ada
sudut pandang simplistis yang biasa dilontarkan oleh manusia yang
ber’ideologi’ kekayaan dan kemewahan. Sudut pandang kesetaraan status
dan kepantasan lingkungan, agar penerimaan dirinya dilingkungan yang
baru, bisa diterima dengan baik. Sudut pandang materialis kapitalis
ini, satu-dua contoh kasus bisa saja benar, bahwa jika Anda bergaul
dengan kalangan jet set tetapi ketika menghadap mereka dengan `hanya’
motor bebek atau mobil
seken, lalu Anda kurang dianggap, kurang `berharga’ dimata mereka. Bisa
saja itu terjadi, dan bisa pula itu perasaan dan sugesti saja. Jangan pernah memandang bahwa kesulitan hidup, adalah biang keladi segala masalah kita -para da’i dan umat Islam- saat ini.
Tak ada manusia satu pun yang ingin susah dan miskin, tetapi jangan
pula menganggap kekayaan adalah solusi jitu, yang akhirnya harus
dikejar-kejar dan diserukan secara demonstratif, karena taqwa dan
keshalihan itulah solusi, sedangkan kekayaan adalah penunjang atau bisa
juga fitnah.

Kenapa contoh keserhanaan Abu Dzar, kewara’an Abu
Bakar, kezuhudan Umar, kedermawanan Utsman, dan kesulitan hidup Ali,
tidak menjadi sudut pandang kita. Apa yang mereka alami ini tidaklah meluluhkan wibawa mereka di depan Al Khaliq dan makhluk.
Justru semakin melambung tinggi dan nama mereka tercatat abadi dalam
konfigurasi sejarah manusia-manusia pilihan. Itu mereka dapatkan bukan
karena kekayaan
dan kemewahan, tetapi keikhlasan, kesederhanaan, dan pengorbanan
mereka. Benarlah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa
Sallam:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu `Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya, kalian tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta kalian,
tetapi kalian bisa menguasai mereka dengan wajah yang bersahaja dan
akhlak yang baik." (HR. Abu Ya’la, dishahihkan Al Hakim, Bulughul Maram
min Adillatil Ahkam, Kitab Al jami’, Bab Targhib fi Makarimil Akhlaq,
hal. 287. Hadits no. 1341. Cet 1, 2004m/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)

Kesederhanaan para da’i di lingkungan yang `tidak sederhana’ adalah hal yang istimewa, ia nampak tidak tergoda dunia, walau dunia mengejarnya.
Ia nampak mampu mengendalikan dunia, dunia ada ditangannya bukan
dihatinya. Jika ia anggota dewan, pejabat, petinggi Partai Da’wah,
dahulunya ia da’i yang sederhana, dan ia tetap sederhana
di lingkungan yang `tidak sederhana’, maka ia seperti cahaya di tengah
kegelapan, ia seperti keteladanan di zaman yang minim keteladanan.
Insya Allah, Allah akan mencintainya, dan manusia pun mengaguminya.

Inilah
sudut pandang yang seharusnya … Syaikh! Bukan justru latah,
ikut-ikutan, dan menjadi norak, sehingga menjadi tak ada bedanya dengan
hamba dunia yang dahulu pernah kita benci, paling tidak beti (beda-beda
tipis) dengan mereka.

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu `Anhu dia
berkata: "Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu `Alaihi wa
Sallam, dia berkata: "Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku jika aku
lakukan maka Allah dan manusia akan mencintaiku. " Maka Ia bersabda:
"Zuhudlah di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah
terhadap apa-apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan
mencintaimu. " (HR. Ibnu Majah, sanadnya hasan. Bulughul Maram min
Adillatil Ahkam, Kitab al Jami’ Bab Zuhd wal Wara’, hal. 277. Hadits
no. 1285. Cet
1, 2004M/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)

Akan Dibangkitkan Sesuai Niatnya

Da’wah
ini telah diramaikan oleh beragam manusia; tipe, kecenderungan, skill,
kebiasaan, sifat, dan niatnya. Faktor niat inilah yang akan
mengendalikan dan mengarahkan masing-masing da’i, bahkan yang
menentukan masa depan mereka di akhirat. Mereka sama-sama berjuang,
sama-sama lelah, tapi mereka akan dibangkitkan di akhirat sesuai
niatnya masing-masing. Ada yang niat dunia seperti ketenaran,
popularitas, kekayaan, jabatan, wanita, walau ini mampu disembunyikan
dengan sangat rapi di dunia, berbungkus da’wah dan berhasil mengelabui
banyak manusia, tetapi akan tersingkap di akhirat. Semoga Allah Ta’ala
merahmati dan memberikan balasan yang lebih baik bagi da’i-da’i
akhirat, yang hanya mengharapkan Allah Ta’ala dan ketinggian agamaNya.

Dari
`Aisyah Radhiallahu `Anha berkata: Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa
Sallam bersabda: "Akan ada tentara yang menyerang Ka’bah, akan tetapi
ketika mereka sampai di sebuah lapangan, tiba-tiba mereka semua
dibinasakan, dari awal sampai akhirnya."
`Aisyah
bertanya: "Ya Rasulullah, bagaimanakah dibinasakan semua, padahal di
antara mereka ada orang-orang yang tidak ikut-ikutan seperti mereka,
yaitu orang-orang yang di pasar dan lain-lain?"Rasulull ah menjawab:
"Mereka
dibinasakan semua, lalu dibangkitkan menurut niat masing-masing. " (HR.
Bukhari- Muslim, lafaz ini menurut Bukhari. Riyadhus Shalihin, Bab Al
ikhlas wa Ihdhar an Niyah, hadits no. 2. Maktabatul Iman, Manshurah)

Jadi,
amal akhirat manusia, seperti da’wah dan jihad menjadi hal yang sia-sia
jika niatnya adalah dunia. Dalam riwayat lain, dari Ubai bin Ka’ab
Radhiallahu `Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam
bersabda:
"Barang siapa yang beramal akhirat dengan tujuan dunia,
maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban,
Al hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim berkata: sanadnya shahih, dan
disepakati Adz
Dzahabi. Al Haitsami mengatakan hadits ini diriwayatkan Ahmad dan
anaknya dari beberapa jalur, dan para perawi Ahmad adalah perawi
shahih, Majma’ uz Zawaid 10/220)

Kami Tidak Mengharamkan Perhiasan Yang halal dari Allah!

Jika ada yang menyangka, ini adalah sikap sok suci, sok tidak butuh kekayaan, apalagi disebut iri, maka ia amat keliru.
Kami
meyakini, setelah iman yang mendalam dan amal yang terus-menerus, maka
da’wah membutuhkan kekuatan, di antara kekuatan yang urgen hari ini
adalah dana. Tentunya, orang yang tidak memiliki harta tidak bisa
memberikan kekayaan. Bertemunya keimanan dan kekayaan, akan membentuk
pribadi yang dermawan.

Namun yang menjadi tema dan sorotan kami
adalah gaya hidup para da’i yang mengalami shock budaya, OKB, Orang
Kaya Baru, lalu dia demonstratif dalam hal itu. Dia lupa bahwa dirinya
berada di lingkungan da’wah, dan para ikhwah yang kebanyakan `tidak seberuntung dia‘. Para Ikhwah yang hidupnya kembang
kempis.

Bergesernya
orientasi da’wah ilallah menjadi da’wah `Road to Senayan’, `Road to
Kekayaan’, inilah yang harus disorot dan diwaspadai. Sesungguhnya,
peringatan itu bermanfaat buat orang-orang beriman. Namun bagi yang
sulit menerima nasihat, hatinya kesat, maka kami katakan:

Berpestalah
… bersenang-senanglah … dan lakukan semua kehendakmu …. Anda
bebas saudaraku… Tetapi, pesta pasti berakhir itu pasti ….

Kami
juga meyakini, bahwa secara nilai normatif, banyak yang lebih faham
dari kami tentang ini, lebih faqih, lebih berpengalaman, lebih cerdas,
lebih pandai, lebih tahu masalah, pokoknya segalanya di atas kami ….
Tetapi,
yang kami (para kader da’wah) minta adalah jangan ajarkan kami
kemewahan, sebab itu bukan cita-cita, obsesi, dan ambisi kami … jangan contohkan kami perilaku yang dahulunya sama-sama kita benci, sebab itu kabura maqtan … dan jangan paksa kami untuk mengikuti jejak perilaku dan pemikiran yang
Anda iklankan ….
Semoga hidayah dan bimbingan Allah Ta’ala selalu menyertai kita semua .. Amin

"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.Dan
barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS. Al Isra’ : 18-19)

Hati yang Lembut

January 24th, 2008 by eys-islami

Karunia Allah swt –> hati yang lembut

>< hati yang kasar

Ada

3 tingkatan hati:

1. hati yang mati/kasar (annafs al-ammaarah bis suu’)

2. Hati yang sering menyesali diri (annafs allawwaamah)

3. Hati yang selalu tenang kepada Allah swt (annafs almuthmainnah)

Dari ketiga tingkatan tersebut, hanya tingkat terburuk yang
hatinya tidak lembut.

Bahaya meremehkan syariat Allah swt: hati mengeras

Ketika hati mengeras: diri sendiri (hawa nafsu/logika
sendiri) menjadi tuhan.
Bertambahnya ilmu tidak menambah kecuali keingkaran

Boleh dicoba: semakin banyak salah, semakin banyak alasan/pembenaran
yang kita punya

 

***

 

Firman Allah swt (Al Quran) bisa dipersepsikan dengan multi
tafsir bahkan bisa disalahgunakan, kecuali oleh hati-hati yang lembut.

Perbedaan menjadi sarana memperluas wawasan jika diskusi dengan hati (yang lembut)

Persamaan menjadi adzab –> karena hati yang kasar
(mis. sama-sama pengunjung discotheque kok fight?)

Sebagian ahlul kitab bisa terengkuh ke dalam Islam karena
hati yang lembut (menangis dan tersungkur sujud mendengar al Quran)

Jadi bagaimana agar kita bisa memahami al Quran? –>
siapkan hati yang lembut

Penutup: pemberian hikmah; anugerah yang luar biasa. Bisakah diperoleh oleh orang yang berhati kasar?

***

Fitnah akhir zaman –> hilangnya orang2
berhati lembut (khusyu’)

Case: bisakah Anda mencari 10 agamawan yang biasa bersentuhan
kulit lelaki-wanita (mis. salaman) ?

Bisakah Anda mencari 20 agamawan yang menghalalkan rokok?

Sanggupkah Anda mencari 40 agamawan yang menghalalkan bunga
bank?

Sanggupkah Anda mencari 80 agamawan yang korup?

Mengapa agamawan/ustadz/ulama tidak malu berbuat itu semua? –>
kalau hati tidak lembut…

 

***

 

Mari membahas lingkungan kecil kita: sebuah kampus asri bernama
STAN

Bisakah Anda mencari 40 (sejumlah hadirin) yang merindukan
kesucian diri dan mengharapkan surga dan keridhaan Allah swt di hari kemudian?

Bisakah Anda mencari 40 (sejumlah hadirin) yang rela
menginfakkan waktu, harta dan jiwanya kepada Allah swt?

Bisakah Anda mencari 40 (sejumlah hadirin) yang merelakan
dirinya dipanggil sebagai muslim – orang yang menyerah/tunduk/patuh?

Sekarang silakan angkat tangan: siapa yang ingin mengotori
kesucian ini dengan berjalan berdua dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya;
sepanjang koridor kampus? Sepanjang jalan kampus sampai gerbang
depan/belakangnya? Atau bahkan mengantar sampai rumah kekasih hatinya; sehingga
merelakan shalat Dzuhurnya tertinggal demi mempertahankan pertautan hati yang
penuh gelora?

 

Silakan angkat tangan: siapa yang menguatkan niat dalam
hati: sebentar lagi akan berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim; dalam
indahnya untaian kata-kata SMS?

 

Silakan angkat tangan: siapa yang ingin membanggakan diri di
depan teman-teman kosnya dengan menelpon ato menerima telepon kekasih hatinya lebih dari 5 menit?
Lebih dari 10 menit? Lebih dari satu jam? Lebih dari 2 jam? Bahkan meskipun itu
di tengah malam, dimana malaikat Raqib menanti kapan gilirannya mencatat amal
shalih beberapa rakaat tahajud?

 

Ya Allah,

Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini…. dst (rabithah)

(Rencananya –insya Allah– untuk diskusi dengan beberapa mujahid mbm pada hari Sabtu, 26 Jan 07 jam tujuh pagi)

Solusi dengan Cerita

January 21st, 2008 by eys-islami

Alhamdulillaah.

Pagi ini Allah swt
membukakan hatiku sehingga dengan nyaman aku berangkat kerja sambil
mendengarkan music melalui headset HP-ku. (pengin tahu engga musicnya siapa
yang kudengarkan? Hehe… sebenarnya engga pake music sih, cuman ada di directori
My Music. Penyanyinya: Al Ghomidi. Udah tahu lah genrenya apa?)

Jam tengah tujuh (= 06:30)
Hasan, my son yang umur 2,5 tahun bangun. Melihat aku udah rapi, dia langsung
teriak: “Daddy engga boleh kerja….” (wuih Daddy… hehe ini

kan

bahasa fs jadi dirubah dikit lah….)

Aku tahu, tadi malam dia
hanya sebentar ketemu sehingga pagi ini masih kaganangan (=kangen;
bahasa Banjar).

“Iya, Daddy engga berangkat
kerja tenang saja….” Aku menjawab sambil memeluk bagian atas tubuhnya (bagian
bawahnya bau pesing sih
).

Aku duduk di karpet. Dengan
manja ia menyandarkan kepalanya ke pahaku.

“O ya Daddy punya cerita.
Hasan mau dengar engga?”

“Mau….” Jawabnya semangat.

“Pada suatu hari ada anak
kereta api (Hasan suka cerita anak gajah, anak kucing, anak kuda, anak kodok
dsb. Dengan inovatif kemudian ia juga menciptakan tokoh: anak bus, anak truk,
anak pesawat dsb….). Anak kereta api itu mau makan kue yang banyak.

Eee…. Kata mamahnya, “Hari
ini engga ada kueh. Tuh Daddy engga sehingga kita engga punya uang untuk beli
kueh.”

Kata anak kereta itu, “Wah
kalau begitu Daddy suruh kerja saja Ma, biar bisa beli kueh.”

Daddy kereta api kemudian
berangkat kerja. Alhamdulillaah, pulangnya Daddy bawa kueh yang enak dan
banyaaaak…..”

Aku memandang wajah anakku
yang kelihatan seperti berfikir. Kutanya, “Gimana Daddy pagi ini berangkat
engga?”

“Berangkat saja,” ujar
Hasan, “Nanti Hasan dibeliin pesawat ya? Sama bus. Sama kereta api….. yang
banyak-banyak…..”

Aku tersenyum. “Insya Allah
kita beli bus sama keretanya nanti kalau hari libur ya? Bareng sama Mama….
Sekarang Daddy berangkat, pulangnya nanti udah malam. Tokonya udah tutup, jadi
Daddy nanti malam cuman bawa pulang kueh atau coklat.”

Dan Hasan pun kemudian
menyalami sambil mencium tanganku, melepasku berangkat kerja.

O ya, aku pulang pergi kerja
diantar istriku sayang sampai stasiun kereta api. Dari rumah aku naik sepeda
motor memboncengkan istri. Kadang juga ada anak-anak yang ikut kalau mereka
sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dari rumah ke stasiun sekitar 10 menit.
Dari stasiun aku kemudian lanjut naik kereta sampai Tanah Abang. Terakhir naik
mikrolet M 08 sampai kantor. Total perjalanan sekitar 45 menit.

Aku memilih berangkat naik
kereta karena cepat dan praktis. Kalau bawa mobil sendiri, bisa sampai satu
setengah jam baru tiba di kantor. Itu pun kalau engga terlalu macet. Pernah
juga naik sepeda motor, eh beberapa bulan naik sepeda motor dadaku suka sesak
dan kepala sering pusing. Akhirnya memilih naik kereta api. Cepat, praktis, dan
sehat karena plus jalan kaki dalam jumlah langkah yang cukup banyak.

Udah dulu ya? Mudah-mudahan
cerita ini bisa menginspirasi teman-teman (asal tahu saja: meskipun aku udah
tua, tapi teman-temanku kebanyakan jomblo usia 20-an hehe….)

Hayam Wuruk; Tuesday, January 22, 2008 @ 08:15

Home Schooling

January 16th, 2008 by eys-islami

Seorang teman mengajakku ikutan aktif dalam HomeSchooling. Dia sendiri sudah meng-HS-kan anaknya.

Aku tentu saja sangat tertarik. HS menurutku adalah salah satu solusi Islami untuk menjawab globalisasi, kapitalisasi, komersialisasi, arogansi dan egoisme dunia pendidikan.

Masalah terbesarnya adalah: satu-satunya pihak yang kuharapkan bisa menjadi tokoh kunci sampai sekarang belum setuju. Who is she? Tentu saja my dear Yoels. Meskipun sudah banyak berdiskusi, aku belum berhasil meyakinkannya tentang efektivitas HS. Padahal tanpa dukungannya (tepatnya: tanpa peran utamanya!) maka tak mungkin HS berjalan untuk anak-anakku.

Sesuai dengan prinsipku belajar dari segala hal, hal ini juga membuatku lebih menyadari bahwa aku belum berhasil membina keluarga. Meskipun -alhamdulillaah- keluargaku selama ini berjalan smooth dalam kesederhanaannya, tetapi aku -mungkin- belum cukup menjadi contoh bagi istri dan anak-anak sehingga my dear Yoels rada-rada takut untuk mengambil tanggung jawab sebagai pendidik penuh anak-anak.

Agak lucu juga sih. Aku dan dia sama-sama cukup aktif di dunia tarbiyyah yang menjadikan tarbiyyah dzatiyyah sebagai manhaj. Tetapi giliran pintu HS - yang notabene keberhasilannya sangat tergantung pada dzatiyyah - dibuka, kami belum segera menyambutnya.

Mudah-mudahan dalam beberapa bulan ini aku dan istriku bisa berdiskusi dengan efektif sehingga kami bisa meng-HomeSchooling-kan anak-anak.

Duh enaknya kalau bisa HomeSchooling dan HomeWorking. Udah murah, humanis lagi.

Digampar Lalu Dibelain

January 15th, 2008 by eys-islami

KA Purwojaya yang kutumpangi sampai di Jakarta hari Jumat, 11 Jan 08 sekitar jam 02:00. Iseng-iseng aku engga langsung pulang melainkan jalan-jalan dulu. Mumpung engga bawa banyak kardus oleh-oleh, mumpung lagi sendirian dan besok engga dikejar deadline, dan biar istri engga terlalu terganggu aku pulang dini hari.

Engga terasa jalan sampai ke perempatan Senen - Kwitang. Kulihat ada angkot-angkot C-01 yang ngetem. Kakiku udah cape juga, pengen naik. Tapi ngetem bisa lama…. ya udah aku jalan lagi ke depannya. Siapa tau nanti ada C-01 lainnya yang nyodok/ngeduluin jalan.

"HEI!!" kudengar suara panggilan keras dan kasar. Aku merasa panggilan itu untukku, tapi aku engga menoleh. Males cari gara-gara. Paling-paling preman pemalak yang lagi mabuk…..

Aku terus berjalan. Tentu saja sangat sepi di jalan depan Atrium itu.

Preman yang manggil itu mengejar. Didahuluinya aku, lalu di depanku dia berhenti.

"PAKK!!"
Sebuah gamparan kuterima di pipi kiri. Engga sakit, tapi cukup untuk membuat aku berhenti melangkah.

"Engga dengar ya gua panggil tadi?" preman itu membentak (percisnya agak lupa sih, tapi dialognya kira-kira begitu lah)

Aku diam. Kupandangi dia. Tingginya sekitar 175, badannya biasa tidak gemuk tidak kurus, agak kekar sedikit. "Wah bakalan berantem nih," pikirku. Soalnya aku engga bakalan mau ngasih duit. Buat apa ngasih duit ke orang yang paling-paling akan memakainya untuk mabuk-mabukan?

Tapi berantem? Pada usia gini? Wah engga lah yaw……

Aku diam dia tambah marah. Sekali lagi dia mengulang pertanyaannya dengan lebih sangar.

"Dengar Bang," aku menjawab. Mungkin suaraku mengambang karena aku sedang berhitung: mau berantem? engga. Mau ngasih duit? engga. Mau kabur? wah udah cape….

"Kenapa engga datang? Elu jagoan sini ya? Elu mau cari gara-gara?"

"Engga Bang."

"Terus kenapa engga dateng pas gua panggil?"

"Engga tau Bang."

Dia tambah marah. Nyerocos keras tapi engga begitu kudengarkan. Pengin sih menjawab, tapi pasti bakal nambah panas.

Akhirnya aku cuman baca istighfar beberapa kali sambil mengibas-ngibaskan tangan; menahan diri agar tidak terbawa emosi.

"Jangan baca astaghfirullaah begitu dihadapan gua. Kenapa elu engga dateng pas gua panggil?"

"Astaghfirullaah. Gua lagi bingung Bang. Bapa gua sakit"

Tidak kuduga, bentakan berikutnya membuatku kaget.

"Kenapa gua panggil engga dateng? Kita kan bisa bicarain gimana cari dana buat obat Bapa elu."

"Engga tau Bang. Gua bingung…. Abang pernah engga sih Bapaknya sakit?"

"Kenapa elu jalan kesini? Elu mau kemana?"

"Mau ke CIledug Bang. Itu mobilnya, tapi gua nunggu mobil yang jalan duluan."

"O elu mau cari yang nyodok? Udah sana naik mobil itu, bilang ke sopirnya suruh jalan. Bilang gua yang suruh. Tuh kacamata kamu jatuh satu."

Sambil mengucap istighfar aku memungut lensa kacamataku yang lepas ketika kena gampar tadi.

"Udah sana naik mobil. Bilang suruh jalan. Elu engga usah bayar, kalau diminta ongkos nanti bilang ke gua."

"Engga usah Bang. Biar gua tunggu mobil lain aja yang duluan. Gua masih punya uang kok buat ongkos ke CIledug."

Tak kusangka dia memegang pergelangan tangan kiriku kemudian setengah menyeretku ke mobil C 01 yang mangkal disitu.

"Hei jalan lu. Bawa dia tuh. Bapaknya lagi sakit. Dia ponakan gua." ujar sang preman yang telah berubah menjadi temanku itu kepada sopir. Tentu saja tetap dengan nada membentak.

Mobil langsung jalan tanpa ngetem-ngetem lagi. Aku agak engga enak sama sopir. Tapi untunglah di Gambir banyak penumpang naik sehingga mobil hampir penuh (kalau masih kosong kan kasian sopirnya engga dapet duit?).

Sampai di Cipulir aku turun. Kuangsurkan uang sepuluh ribuan.

"Engga usah dah bawa saja." kata sopir.

"Engga Bang, terima saja. Dia tadi bukan siapa-siapa gua."

"Entar gua ditegur lagi"

"Terserah deh nanti kalau ditegur jawab apa aja. Gua engga bakal cerita kok."

Si sopir menerima uangku dan mengembalikan 5ribu.

Mmmmm….

Pelajarannya:

1. Jangan takut sama preman, tapi juga jangan sombong. Sikap tenang dan rendah hati bisa membuat hati dan kekasarannya luruh.

2. Mungkin juga preman itu kebanyakan nonton Rahasia Ilahi, Hidayah dan semacamnya sehingga gentar ketika gue, eh…. saya baca istighfar.

3. Jadi lebih bisa meresapi makna hadits: apabila kalian tahu bahayanya berjalan di malam hari, kalian tidak akan pernah melakukan perjalanan di malam hari…..

O ya tadi malam (Rabu 15 Jan 08 jam 20-an) aku ketemu teman yang tinggal di Galur. Katanya malam Ahad lalu dia dan seorang temannya habis dikeroyok preman di sekitar Senen ketika dia mau pulang.

Ada kabar juga katanya sekarang banyak preman dari suatu daerah di Indonesia timur yang tiap malam mangkal di sekitar Senen.

Masih tadi malam juga: sekitar jam 21 sampai jam 22 aku ketemu seorang anak pemulung  (usia belasan) lagi dikejar-kejar bosnya di sekitar Blok M. Anak pemulung itu udah engga kuat sama bosnya jadi pengen kabur. Aku pengen nolong tapi bingung mau bawa dia kemana. Sempat sih aku ajak dia ngumpet kemudian aku tanya masalahnya apa. Tapi pas lagi ngobrol tiba-tiba bosnya muncul dan dia dengan ketakutan terpaksa mendatangi bosnya itu. Habis itu kutungguin dia engga muncul lagi, mungkin udah diiket bosnya itu lagi. Karena udah malam, aku segera naik S 71 pulang.

So? Hati-hatilah kalau harus jalan malam di Jakarta. Eh bukan hati-hatilah tapi:

WASPADALAH…. WASPADALAH….. :) :)

(Seru ya? ceritanya asli loh…. cuman kalau dialog ya mungkin engga percis….)

Tetap Maju

January 15th, 2008 by eys-islami

(wah bener nih mau nulis puisi? aku yakin bakal gagal deh….)
Udah diam. aku harus nulis puisi. BIsmillaah, aku pengin hatiku lembut. Al Quran saja bersyair….

(tapi biasanya puisimu jelek dan lebih mirip tulisan biasa. Prosa apa cerpen atau apapun lah…. itupun dengan kualitas tidak layak muat)

….. no comment deh

==============

Tetap Maju

aku luka
tertipu
mmm… tepatnya terpedaya
(tuh kan…. mulai…)

jatuh
ditinggalkan
sangat-sangat-sangat-sangat kecewa….
hampir-hampir-hampir (5% lagi !) putus asa

aku tidak percaya lagi
pada siapa pun
pada apa pun

mmmm….. lalu aku berfikir
lalu aku bertanya
lalu aku belajar

pengkhianatan makhluk adalah pelajaran tentang kenisbian
bahwa menggantungkan harap terlalu besar
kepada siapapun selain Allah
PASTI berujung kecewa

hidup terus berjalan
dan selama nyawa belum ditarik ke ubun-ubun
maka semua yang terjadi adalah pelajaran
untuk hari esok yang lebih baik….

setiap kejatuhan, kekecewaan, keputus asaan
adalah loncatan untuk memasuki tahap kejiwaan baru
yang lebih matang dan jeli
lebih sensitif sekaligus logis
religius sekaligus humanis
berani sekaligus lembut
berprinsip kokoh sekaligus penyayang…..

maka aku bangkit
eh memaksakan diri bangkit
eh tertatih-tatih bangkit
pokoknya begitu deh

lalu menatap ke depan
ada pelangi
indah
dengan ribuan wajah disana

Inilah semua kerabat, saudara, dan teman-temanmu
berwarna-warni
sangat indah
jangan kecewa dengan hijau karena ia tidak seteguh biru
jangan marah kepada kemanjaan orange
dan maklumilah mengapa pink begitu ceria
atau ungu begitu muram
indah
tapi nisbi
tak perlu kau kejar….
Kejarlah ALLAH saja

(hehe… jelek. udah kuduga…. tapi engga papalah)
Terima kasih, aku tidak mengharap pujianmu
(duh jangan jadi sensi begitu dong. emang puisimu jelek kok)

Denger nih….

aku sudah belajar ikhlas
melepas segala keterikatan kepada makhluk
harta-cinta-popularitas-paras-figur- dan apapun
Laa ilaah….
dan sedang belajar meletakkan semuanya untuk Allah saja
…..Illa-LLAAh

(wew.. kalau ikhlas ya engga marah ato ngedumel dong)
Mmmm… iya juga sih.

DOA ….

January 3rd, 2008 by eys-islami

Ya Allah, hamba berdoa dan hamba sama sekali tidak ingin ngajarin….
Engkau adalah Yang Maha Tahu
Kalau hamba bercerita itu hanya sekedar penumpahan unek-unek
bukan untuk memberitahu-MU
melainkan untuk menginspirasi dan memotivasi-ku

begini doaku ya Allah…

Mmmm….
aku sudah berselingkuh (ngaku nih…)
dengan mencintai makhluk secara tidak ENGKAU ridhai
hamba sangat menyesal dan ingin berhenti
hamba tahu semua cinta bukan untukMU; bukan karenaMU dan bukan dariMU
adalah fatamorgana semata
hamba tahu bahwa akhir semua cinta palsu itu adalah penyesalan
mungkin juga kelelahan dan kebinasaan
hamba tahu semua yang hamba lakukan tidak merugikanMU dan hanya merugikan hamba sendiri

Tetapi……
hamba tidak tahu mengapa dorongan kesana begitu kuat
sehingga hamba tidak sanggup membendungnya
hamba tahu juga pasti banyak orang lain yang mengadu kepadaMU sambil membawa alasan yang hampir sama
tetapi hamba memang tidak tahu mengapa hamba menjadi begini
dan mengapa hamba tidak kunjung bisa menjadi seperti yang hamba inginkan

Ya Allah,
iya deh hamba ngaku
hamba kurang berusaha
banyak malas-malasan
suka melempar kesalahan kepada yang lain
lalu…
apakah untuk semua itu ENGKAU akan menyiksaku?
AStaghfirullaah….
A’udzubillaah….
Ya Allah,
ENGKAU tahu betapa hati ini selalu gemetar dan takut setiap membayangkan siksaMU
tapi kok cuman sebentar
dan setelah itu balik selingkuh lagi ya?
Astaghfirullaah…

Ya Allah,
sebenarnya banyak sekali yang ingin hamba ungkapkan;
tentu saja sekalian minta tolong
tapi rasanya sulit sekali untuk mengatakannya
hamba tahu hamba salah dan tidak boleh begitu
dan hamba juga pengin menjadi hamba yang baik
tapi itu sulit
dan hamba pengin minta pertolonganMU
tapi rasa bersalah membuat hamba sungkan
waduh tambah sulit….

Ya sudahlah
Hamba yakin Engkau telah mendengar seluruh keluhku;
yang sudah kuungkap maupun yang masih dalam dadaku
dan hamba juga yakin…. sebagaimana biasa……
sebentar lagi Engkau akan menurunkan pertolonganMU

Terjebak MALAM TAHUN BARU

January 1st, 2008 by eys-islami

Malam tahun baru bagiku bukan malam istimewa. Tiga puluh lima tahun baru telah kulewati, dan bagiku semua biasa saja. Baru pada tahun baru 2008 ini aku tahu: bahwa malam tahun baru bukan malam yang biasa saja.

Ceritanya dimulai dari anggapanku bahwa malam tahun baru adalah malam yang biasa saja. Karena (merasa) biasa saja, aku juga melakukan aktivitas secara biasa saja: silaturahim ke seorang teman di daerah Jakpus.

Habis ashar aku berangkat dari rumah. Habis maghrib keperluanku selesai, pulang. Jam 19:00 sudah sampai di Senen untuk lanjut naik bus ke Blok M atau Tanah abang.
Ternyata……

Bus yang kutumpangi terkena macet dekat stasiun Gambir. Di luar hujan turun cukup deras. Orang-orang yang mau merayakan malam tahun baru pada nekat turun. Aku mentertawakan mereka dalam hati. Mosok udah tahu hujan nekat, cuman demi malam tahun baru…..

Eeee…. ternyata busku tidak kunjung bisa jalan. Sudah 20 menit, baru maju 5 meter.
Satu jam…
Wah gawat. bisa sampai pagi nih.

Ketika hujan agak reda aku turun. KUcoba jalan menuju patung tugu tani untuk mencari taksi.

Ternyata jalan begitu padat. Arus orang yang mau ke monas dan orang yang mau meninggalkan monas (termasuk aku) bertabrakan dan saling dorong. Kasihan deh yang pada bawa anak kecil.

Aku jadi berfikir: beginilah kalau Allah menimpakan azab kepada suatu kaum. Semua orang kena, nanti ketika dibangkitkan di hari kiamat baru masing-masing individu dihitung amal masing-masingnya.

Astaghfirullaah…
Aku berada di keramaian bersama orang-orang yang merayakan tahun baru selama hampir 4 jam! (Jam 19 sd jam 00:30).
Basah kuyup seperti anak ayam kehilangan induknya di pasar hewan…

Wah, lain kali kalau mau pergi harus bikin perhitungan dulu, jangan asal pergi seperti kemarin itu.

Jam 00:45 aku minum es jeruk di senen, sambil menunggu bus ke blok m yang lewat Salemba.

Sampai di blok M jam 02:00
Sampai di rumah jam 03-an.

Tragis.